Senin, 12 Februari 2018

"INILAH SEJARAH YANG TIDAK BOLEH DI LUPAKAN OLEH KITA SEMUA."

Bismillaahirrahmaanirrahiim
1. Tahun 1914 delapan puluh lima tokoh komunis Belanda mendirikan serikat buruh di Indonesia, diberi nama ISDV (Indische Sosialis Democratic Vereeneging). Saat itu Indonesia dijajah oleh Hindia Belanda. Tokoh komunis Belanda ingin mengubah pemerintahan kapitalis Belanda menjadi komunis. Indonesia dipilih karena merupakan ladang kekayaan alam Belanda. Mereka ingin mengganggu stabilitas politik Hindia Belanda. ISDV didanai oleh Uni Soviet.
2. Tahun 1917 delapan puluh lima tokoh komunis tersebut menghasut buruh dan petani yang sudah menjadi anggota untuk membakar perkebunan dan perkantoran Belanda. Para tokoh tersebut ditangkap dan dikembalikan ke Belanda, kecuali beberapa orang yang dianggap tidak bersalah. Adapun para buruh dan petani yang tertangkap dihukum mati, dipenjara, disiksa, dikerjapaksakan oleh Hindia Belanda. Tujuan pembakaran BUKAN untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tapi untuk mengganggu stabilitas pemerintahan kapitalis Hindia Belanda yang ingin mereka ubah menjadi pemerintahan komunis.
3. Setelah para tokohnya dipulangkan ke Belanda, ISDV tidak dibubarkan. Pengurusnya diganti. Pada tahun 1920 ISDV diganti menjadi PKH (Perserikatan Komunis Hindia Belanda). PKH dipimpin oleh Semaun dan Darsono.
4. Konferensi Komunis di Moskow, Uni Soviet menuntut pendirian partai komunis di seantero dunia dalam rangka merebut kekuasaan. Tahun 1926 di Semarang PKH berubah nama menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia) dipimpin oleh Muso dan Alimin.
5. Tahun 1927 PKI yang sudah berhasil merekrut banyak anggota, atas arahan Uni Soviet dan Partai Komunis Belanda membuat kerusuhan yang lebih besar. Perkebunan dibakar, stasiun dan terminal diserbu. Sekali lagi, ini BUKAN dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengubah pemerintahan kapitalis Belanda menjadi pemerintahan komunis di bawah kendali Uni Soviet.
6. Akibat kerusuhan ini para pimpinan PKI dibuang dan mendapatkan suaka politik di Uni Soviet. Akan tetapi, tiga belas ribu petani dan buruh yang terlibat kerusuhan dibuang dan dikerjapaksakan di Irian. Ratusan petani dan buruh disiksa, dibunuh, digantung di jalan-jalan oleh Belanda. Tahun 1927 PKI dibubarkan selama-lamanya oleh Belanda. Pimpinan PKI tidak diizinkan kembali ke Indonesia.
7. Tahun 1937 beberapa pimpinan PKI diizinkan kembali ke Indonesia. Mereka bergerilnya untuk menghimpun kembali mantan anggota PKI. Mereka membentuk gerakan bawah tanah. Kemudian mereka kembali ke Uni Soviet dan mengatur gerakan bawah tanah tersebut dari Uni Soviet.
8. Menjelang kemerdekaan Indonesia, tokoh pimpinan ormas-ormas Islam dan tokoh-tokoh nasionalis berkumpul dalam rangka persiapan kemerdekaan. Tokoh-tokoh tersebut ialah KH. Wahid Hasyim dari, KH. Kahar Muzakkir dari Muhammadiyah, H. Agus Salim dari Sarikat Islam. Tiga kyai tersebut berdebat dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Yamin. Tokoh nasionalis menginginkan Indonesia menjadi negara sekuler. Ide ini ditentang oleh para kyai. Hasilnya, Indonesia menjadi negara yang berdasarkan Ketuhanan YANG MAHA ESA. Singkat cerita Indonesia merdeka. Para tokoh dan kyai sepakat Bung Karno dan Bung Hatta menjadi presiden dan wakil presiden. Catat! PKI tidak ikut serta dalam rapat usaha kemerdekaan Indonesia.
9. Kabar kemerdekaan Indonesia mengejutkan Moskow. Tidak sampai seminggu setelah kemerdekaan, mantan tokoh-tokoh PKI di Uni Soviet kembali ke Indonesia. Muso dan Alimun menghadap Bung Karno dan meminta supaya PKI dilibatkan di dalam kekuasaan. Bung Karno menolak.
10. PKI marah. Kemudian mereka membentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia) di Tegal. Mereka menculik lurah, membunuh camat, menculik bupati. Mereka merebut Tegal. Sepanjang Oktober mereka membunuh Otto Iskandar Dinata di Tangerang, mereka bunuh bupati Lebak di Banten yaitu Raden Hadiwinangun, bupati Tangerang Agus Padmanegara diusir. Teror terus dilakukan agar Bung Karno bersedia memasukkan PKI dalam pemerintahan.
11. Tahun 21 Oktober 1945 PKI dideklarasikan kembali di Indonesia. Akan tetapi tuntutan agar dilibatkan dalan kekuasaan tetap ditolak.
12. PKI kembali membuat kerusuhan. Mereka merebut karesidenan Pekalongan. Mereka merebut Brebes, Tegal, Pemalang, Batang. Tentara mereka usir, tentara mereka tangkap, komandan mereka bunuh. Kyai yang tidak mendukung PKI ditangkap. Pesantren-pesantren NU dibakar. Istana Langkat di Sumatera Utara diserbu. Sultan, istri, dan anak-anaknya dibunuh. Harta kekayaan kesultanan dijarah. Teror-teror dilakukan untuk memaksa Bung Karno melibatkan PKI dalan pemerintahan.
13. Bung Karno terpaksa memenuhi keinginan PKI. Bung Karno sebagai presiden, Bung Hatta wakil presiden, dan Amir Syarifuddin Harahap -tokoh PKI- sebagai perdana menteri. Tahun 1947 Amir Syarifuddin resmi menjadi perdana menteri Indonesia.
14. Januari – Desember 1947 Amir Syarifuddin memasukkan kader-kader PKI ke Legislatif, Eksekutif, pegawai negeri sipil, pegawai negeri militer, menjadi komandan-komandan tentara dan polisi.
15. NU, Muhammadiyah, Sarikat Islam berkali-kali menasihati Bung Karno namun tidak berhasil.
16. Pada tanggal 17 Januari 1948 berlangsung Perjanjian Renville antara Indonesia dan Belanda. Hasil perundingan merugikan Indonesia dan membuka kembali peluang Belanda menjajah Indonesia.
17. NU, Muhammadiyah, Sarikat Islam, para kyai, dan habaib menemui Bung Karno. Mereka mengancam jika Amir Syarifuddin tidak diberhentikan dan kabinet PKI tidak dibubarkan, NU, Muhammadiyah, SI akan mundur dan tidak mendukung Bung Karno.
18. Pada tanggal 23 Januari 1948 Amir Syarifuddin dicopot dari jabatannya. Kabinetnya dibubarkan. Posisi Perdana Menteri digantikan oleh Bung Hatta, merangkap sebagai Wakil Presiden. Begitu diangakat menjadi PM, keesokan harinya Bung Hatta meluncurkan program Re-Ra (reorganisasi-rasionalisasi). Seluruh PNS, komandan TNI, komandan polisi yang berasal dari kader PKI diberhentikan. Itulah program Bung Hatta sepanjang 1948.
19. Agustus 1948 PKI menggelar konvensi menolak pembubaran kabinet Amir Syarifuddin, pemberhentian kader-kader PKI.
20. Pada tanggal 5 September 1948 Muso menghadap Bung Karno dan mengancam: kalau Indonesia mau aman, kalau kita tetap mau bersatu, Indonesia wajib untuk berkiblat kepada Uni Soviet. Jika Indonesia berkiblat kepada Uni Soviet, Indonesia akan aman dari gangguan penjajah. Bung Karno menolak permintaan tersebut.
21. Tanggal 10 September 1948 di Madiun Muso mengumumkan berdirinya negara baru dengan nama Negara Republik Soviet Indonesia.
22. Setelah mendirikan negara baru, keesokan harinya mereka menculik pejabat, lurah, camat yang tidak mendukung Negara Republik Soviet Indonesia. Pondok pesantren yang tidak mendukung dibakar.
23. Pada tanggal 17 September 1948 mereka serbu pondok KH. Sulaiman di Madiun berbatasan dengan Magetan. Seratus delapan ustadz, santri, guru, lurah, camat mereka seret, mereka sembelih satu per satu, mereka masukkan ke dalam sumur. Kejadian di Desa Bojo (?, suara kurang jelas, ed), Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan.
24. Setelah itu mereka rebut kota Magetan, Ponorogo, Rembang, Kudus, Pati, Cepu, Blora, Sukoharjo. Tentara mereka culik, sebab ada di antara mereka yang sebelumnya adalah tentara. Jawa Tengah pun lumpuh.
25. Bung Karno memanggil Panglima Besar Soedirman. Panglima Besar Soedirman kewalahan karena tentara dan kepolisian disusupi PKI. Beliau kemudian mengerahkan pasukan dari Jawa Timur dan Jawa Barat untuk menghadapi PKI.
26. Gubernur Jawa Timur, Raden Mas Aryu Suryo mereka culik dan mereka bunuh. Dr. Mawardi (atau Muwardi?) pimpinan RS Solo mereka culik dan mereka bunuh, Kol. Marhadi (?) pimpinan TNI di Madiun mereka culik dan mereka sembelih.
27. Tanggal 30 September 1948, Panglima Besar Jenderal Soedirman, dibantu pasukan Gatot Subroto dan Pasukan Siliwangi dari.Jawa Barat berhasil merebut kembali kota Madiun.
28. Bulan November Jawa Tengah dapat dikuasai kembali oleh NKRI. Muso dan Alimin tertangkap. Keduanya dieksekusi mati oleh tentara.
29. Begitu terusir dari Madiun, PKI lari ke Magetan. Sepanjang jalan mereka culiki rakyat dan kyai, mereka membakar pondok pesantren. Ribuan orang mereka tangkap dan mereka giring ke pabrik gula Gorang Gareng dan Alas Teu di Magetan. Mereka sembelih satu per satu di pabrik gula hingga di pabrik gula banjir darah lebih tinggi dari betis.
30. Di Magetan ditemukan 7 ‘sumur neraka’. Di setiap sumur terdapat lebih dari 200 kerangka mayat manusia. Begitu diidentifikasi, ada mayat lurah, camat, kyai, dan ustadz.
31. Bung Karno tidak bersedia membubarkan PKI. Ulama meminta Bung Karno membubarkan PKI yang telah berbuat dzolim luar biasa. Alasan Bung Karno adalah karena Belanda akan datang dan Indonesia sedang membutuhkan kekuatan. Menurut Bung Karno yang bersalah adalah PKI Madiun dan sekitarnya saja. Cukup Muso dan Alimin sudah dihukum mati.
32. PKI dibenci oleh masyarakat. PKI pun menempuh cara agar mereka lupa dengan kebiadaban PKI. Mereka -yang kemudian dipimpin oleh DN Aidit dan Untung- bangkit dan menggunakan politik ‘menjilat’ Bung Karno. Mereka puji dan bela Bung Karno setinggi-tingginya. Apa saja program Bung Karno mereka dukung. Mereka lakukan untuk merebut hati rakyat karena mereka tahu bahwa rakyat dekat dan cinta kepada Bung Karno. Mereka ingin meluluhkan hati Bung Karno agar cinta kepada PKI. Mereka berhasil. Mereka memanfaatkan kebaikan hati Bung Karno.
33. Tahun 1955 PKI diizinkan untuk mengikuti pemilu. Hasilnya mengejutkan. PKI memperoleh urutan keempat setelah Partai NU, Masyumi, dan PNI.
34. PKI semakin merangsek, membujuk, mendekat, dan memanfaatkan Bung Karno.
35. Para ulama NU, Muhammadiyah, dan Sarikat Islam, dari berbagai komponen menggelar Konvensi Ulama Indonesia di Palembang. Isinya meminta presiden untuk membubarkan PKI. Peristiwa ini terjadi di tahun 1957. Akan tetapi permintaan ini ditolak oleh Bung Karno.
36. Tahun 1960 Bung Karno meluncurkan politik Nasional Agama Komunis (Nasakom). Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) menolak politik ini. Akibatnya, di bulan Agustus 1960 Masyumi dibubarkan.
37. Bung Karno bukan PKI, namun kebijakannya sering memberi kesempatan kepada PKI.
38. Tahun 1962, petinggi PKI yaitu DN Aidit dan Noto ditetapkan oleh Bung Karno sebagai Menteri Besar Penasihat Presiden.
39. Tahun 1963, dua menteri PKI dalam rapat kabinet membujuk Bung Karno untuk perang melawan Malaysia (Ganyang Malaysia). NU, Muhammadiyah, Sarikat Islam, tentara menolak. Tapi PKI terus menekan Bung Karno. Akhirnya Bung Karno meluncurkan ‘Ganyang Malaysia’. Ganyang Malaysia dilatarbelakangi oleh adanya pesanan dari Uni Soviet. Saat itu Partai Komunis Malaysia sedang terancam dibubarkan. Maka gerakan ini sebenarnya untuk menggoyang stabilitas Malaysia agar Partai Komunis Malaysia tidak jadi dibubarkan. Mereka berhasil, Partai Komunis Malaysia tidak jadi dibubarkan.
40. Ganyang Malaysia menyebabkan Indonesia kekurangan tentara. Inilah yang ditunggu oleh PKI. Akhir tahun 1963 PKI menghadap Bung Karno menyatakan bahwa personel militer tidak cukup. PKI menyatakan siap membela negara dengan petani dan buruh yang militan. Mereka meminta agar buruh dan petani dijadikan angkatan kelima (setelah angkatan darat, laut, udara, dan polisi). Dengan demikian petani buruh yang diajukan PKI dipersenjatai.
40. Ganyang Malaysia menyebabkan Indonesia kekurangan tentara. Inilah yang ditunggu oleh PKI. Akhir tahun 1963 PKI menghadap Bung Karno menyatakan bahwa personel militer tidak cukup. PKI menyatakan siap membela negara dengan petani dan buruh yang militer. Mereka meminta agar buruh dan petani dijadikan angkatan kelima (setelah angkatan darat, laut, udara, dan polisi). Dengan demikian petani buruh yang diajukan PKI dipersenjatai.
41. Tahun 1964 Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) -partai yang diisi orang-orang yang keluar dari PKI- mengingatkan Bung Karno: hati-hati PKI akan melakukan kudeta, menggulingkan pemerintahan, merebut kekuasaan. Akibatnya, Partai Murba dibubarkan.
42. GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) berdemonstrasi menentang politik nasakom dan perang melawan Malaysia. Akibatnya, GPII dibubarkan.
43. Para ulama juga mengkritik pembubaran Masyumi, GPII, dan Partai Murba. Akibatnya, lebih dari tiga puluh kyai tingkat nasional dijebloskan ke penjara. Di antara mereka adalah Buya Hamka, KH. Sholeh Iskandar, KH. Mawardi Nur (?), dan KH. Yunan Helmi Nasution.
44. Pada bulan Juli 1965, dengan izin presiden PKI mendatangkan 2000 pemuda dari kalangan buruh dan tani ke pangkalan udara Halim Perdanakusuma. Di sana mereka mendapatkan pelatihan militer.
45. PKI melihat musuh yang tersisa adalah tentara.
46. Pada 30 September 1965 PKI melakukan penculikan tujuh jenderal tentara. Hanya satu jenderal yang lolos, yaitu AH Nasution. Putri beliau yang bernama Ade Irma Suryani Nasution yang berusia lima tahun ditembak mati oleh PKI. Para jenderal tersebut kemudian disiksa dan dibunuh.
46. Keesokan harinya, melalui radio RRI yang sudah dikuasai oleh PKI, PKI mengumumkan bahwa ada Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta. PKI mengklaim telah menangkap Dewan Jenderal tersebut. Oleh karena itu, sekarang negara berada di tangan Dewan Revolusi Baru, kata PKI.
47. Jenderal AH Nasution kemudian memanggil Letjen Soeharto dan Kolonel Sarwo Edhi agar menggagalkan kudeta PKI. Pada hari itu Soeharto membawa pasukan untuk menyerbu dan berhasil merebut kembali RRI. Soeharto mengumumkan bahwa kudeta PKI gagal. NKRI tetap tegak.
48. Sarwo Edhi membawa RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, sekarang Kopassus) untuk menyerbu bandara Halim. Pemberontakan PKI dipimpin oleh Kolonel Untung. Hari itu juga bandara Halim dapat direbut kembali. Kemudian pemerintah secara resmi mengeluarkan pengumuman tentang apa yang terjadi.
49. Tanggal 10 Oktober 1965 GP Anshor dengan Banser NU berdemonstrasi di kota-kota menolak dan menentang PKI. Akibatnya, komandan-komandan Banser di Jawa Tengah dan Jawa Timur diculik dan dibunuh oleh PKI. Enam puluh tujuh Banser di Banyuwangi pura-pura diundang, dijamu, diracuni, disembelih satu per satu, dimasukkan di dalam lubang.
50. Di Blora, Madiun, Magetan dll kyai NU diculik.
51. Tanggal 13 Oktober 1965 terjadi bentrok antara Banser NU dengan PKI di seantero Sabang-Merauke. Kemudian seluruh komponen ummat Islam (Muhammadiyah, Persis, Al-Washiliyah, dll) bergabung dengan NU melawan PKI.
52. Setelah kejahatan PKI sebelum-sebelumnya, di mana mereka membunuh rakyat, kyai, ulama, ustadz, santri, tentara, pejabat, jenderal, membakar pondok pesantren, merusak fasilitas umum, dalam waktu kurang dari satu tahun, satu juta anggota PKI mati di tangan muslimin. Anggota PKI tahun 1965 tercatat sebanyak 3 juta. Satu juta di antaranya mati di tangan muslimin.
53. Bung Karno masih tidak bersedia membubarkan PKI.
54. Para pejabat negara marah dan mendorong diselenggarakannya sidang istimewa MPRS. Kemudian, keluarlah Ketetapan MPRS no. 25 tahun 1966 yang isinya 1) memberhentikan Bung Karno dari jabatan presiden, 2) mengangkat Soeharto sementara waktu menjadi presiden, dan 3) membubarkan PKI serta melarang penyebaran paham-paham komunisme, leninisme, dan marxisme.
Pertanyaan:
Apakah pantas presiden meminta maaf kepada PKI?
Konsekuensi permintaan maaf kepada PKI:
1. Berarti PKI tidak bersalah. Jika PKI tidak bersalah berarti kyai, ulama, santri, umat Islam, pesantren, tentara, dan negara salah.
2. Jika PKI tidak bersalah berarti PKI wajib direhabilitasi oleh negara. Nama baiknya harus dikembalikan, aset-aset yang disita harus dikembalikan, dan PKI harus diresmikan berdiri kembali oleh negara.
3. PKI berhak mendapatkan kompensasi. Saat ini sedang digelar Mahkamah Internasional untuk kasus PKI. Mereka menuntut agar anggota PKI yang dirugikan oleh negara sejak tahun 1965 sampai sekarang diberi kompensasi sebesar 1 milyar rupiah per orang. Tahun 1965 tercatat ada satu juga anggota PKI, berarti dibutuhkan 3000 trilyun rupiah.
4. Berarti kyai-kyai NU, Muhammadiyah, dan ormas-ormas Islam yang pada tahun 1965 ikut perang melawan PKI adalah para penjahat perang dan pelanggar HAM berat. Mereka harus diseret ke pengadilan HAM.
 POSTED BY : Mujahidin Sejarah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar