Tampilkan postingan dengan label Pertempuran Legendaris Mujahidin Mujahidin Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertempuran Legendaris Mujahidin Mujahidin Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

"28 NOVEMBER 1945, PERTEMPURAN LEGENDARIS TENTARA SEKUTU MELAWAN LASKAR HIZBULLAHNYA KOLONEL KH NOER ALI DI JEMBATAN KALI SASAK PONDOK UNGU BEKASI"

Tanggal 28 November 1945 setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, di Jakarta suasana mencekam juga terjadi karena Belanda berusaha datang untuk menguasai kembali. Pada bulan November turunlah mereka di pelabuhan Tanjung Priuk dengan peralatan perangnya yang bertujuan ingin merebut kembali Jakarta. Sebelumnya Sekutu sudah menggempur Surabaya, namun kedatangan mereka mampu dihadapi dengan heroik oleh arek-arek Suroboyo.
Kedatangan pasukan Sekutu yang didalamnya ada pasukan Belanda di Jakarta melalui Tanjung Priuk sempat dicegat oleh kelompok para ulama yang menamakan dirinya "Laskar Hizbullah" di bawah koordinator KH. Ahmad Mursidi, H. Darip, KH. Noer Ali dan para ulama beserta jamaahnya yang berkumpul di bilangan Matraman. Hal itulah yang membuat pihak Belanda melancarkan tembakannya ke arah para ulama dan jamaahnya. Dengan kalimat Takbir mereka maju tanpa takut sedikitpun. Belanda pun dibuat kewalahan. Berondongan peluru tidak mempan. KH. Ahmad Mursidi berteriak: "Masih ade lagi peloronye? Kalo abis, nih boleh Ente pungutin sendiri!" Belanda dibuat takjub dengan tangan kosong H. Darip membalikan mobil-mobil pengangkut tentara penjajah. Belanda merasa kewalahan, sekalipun demikian tetap saja kelompok ulama dan jamaahnya masih kalah jumlah. Akhirnya upaya membendung kedatangan Belanda sedikit alot. Karena pihak ulama dan jamaahnya merasa letih, pihak Belanda pun dapat memukul mundur sampai ke perbatasan Bekasi. Perburuan Belanda terhadap para ulama dan jamaahnya terjadi. Dan itu yang membuat Gerilya dari Laskar Hizbulloh yang imbasnya Jakarta tidak jatuh ke tangan Belanda untuk ke dua kalinya.
Fakta ini jelas menunjukkan jika para ulama telah menjadikan kawasan Matraman dan sekitarnya menjadi kawasan terpenting dalam perjuangan, dan ini seolah mengulang kembali ajang pertempuran bersejarah yang pernah terjadi beberapa ratus tahun yang lalu dikawasan ini. Tiga ulama ini memang dikenal merupakan ulama-ulama yang terkenal sangat keras dalam menghadapi penjajah.
KH Noer Ali adalah ulama besar bangsa ini, siapapun yang pernah membaca biografinya akan terkagum-kagum dengan sepak terjangnya dalam mempertahankan Kemerdekaan RI. Namanya semakin tenar ketika Bung Tomo selalu menyebut dalam beberapa orasinya di Radio Pemberontak dengan kalimat “Kyai Haji Noer Ali”. Sejak itulah namanya terkenal dengan nama “Kyai Haji Noer Ali”. Disebutnya nama Kyai Noer Ali oleh Bung Tomo menandakan bahwa kiprah perjuangan KH Noer Ali sangat diperhitungkan sepak terjangnya oleh berbagai kalangan. Jika Surabaya bergolak dan didalamnya terdapat peran serta ulama-ulama dan santri maka untuk wilayah Jakarta Raya nama seperti Kolonel KH Noer Ali bersama KH Ahmad Mursyidi, Haji Darip dan juga Guru Amin Kalibata mampu “menggetarkan” jagat perjuangan saat itu dengan “Laskar Hizbullahnya”. Jika sejarah mau jujur, perlawanan dari para ulama-ulama inilah yang nanti banyak memberikan pengaruh besar bagi mental pejuang untuk terus berjuang. Laskar Hizbullah memang pada waktu itu terkenal “Selon” dalam menghadapi penjajah. Modal mereka, doa, keberanian dan takbir, sehingga percaya diri mereka itu sudah tidak perlu diragukan lagi. Mati bagi mereka tidak masalah. Sehingga dengan keberanian seperti ini kadang banyak membuat fihak geleng-geleng kepala, seolah bingung kenapa para pejuang tersebut bisa “nekat”.
Pertempuran Kolonel KH Noer Ali yang sangat begitu heroik dalam melawan sekutu adalah tatkala beliau dan pasukan Hizbullahnya bertempur mati-matian mempertahankan Front terakhir di perbatasan Jakarta Bekasi pada tanggal 28 November 1945, 18 hari setelah perang besar 10 November 1945 di Surabaya. Pertempuran 28 November 1945 tepatnya berlangsung di Jembatan Kali Sasak di daerah Pondok Ungu Medan Satria Bekasi Barat (kebetulan dekat dengan rumah kami). Dalam pertempuran hidup mati ini, banyak saksi mata yang mengatakan jika pasukan KH Noer Ali kebal terhadap peluru, demikian pula KH Noer Ali, dengan bekal wirid-wirid yang pernah diajarkan oleh guru-gurunya, KH Noer Ali mampu menghidupkan keberanian para anak buahnya.
Begitu heroiknya pertempuran ini, sampai-sampai Chairil Anwar membuat sebuah Syair yang terkenal berjudul KARAWANG BEKASI. Pertempuran di Kali Sasak Pondok Ungu ini dapat dikatakan satu pertempuran terkeras dan tersengit di wilayah Jakarta Raya. Tidak heran pasca serangan besar-besaran yang ditujukan kewilayah Bekasi Karawang, kondisi menjadi luluh lantak seperti kondisi kota Surabaya. Sekutu sepertinya tidak puas jika belum membom wilayah Karawang Bekasi. Karawang Bekasi memang sangaja dihancurkan karena daerah ini merupakan lumbung beras terakhir untuk wilayah Jakarta, jika daerah ini hancur, maka logistik beras untuk rakyat Jakarta, otomatis terhenti. Namun sekalipun Karawang Bekasi hancur, perjuangan Pasukan KH Noer Ali dan juga Kapten Lukas (kelak beliau masuk Islam setelah menikah dengan istrinya yang muslimah) tetap menggelorakan perjuangan.
Dengan semangat jihad serta kelihaian Strategi Kolonel KH Noer Ali mampu menunjukkan kelasnya sebagai komandan tempur yang handal, bersama dengan Kapten Lukas, dua orang ini merupakan “buronan” penjajah Belanda, karena pasukan mereka terkenal alot dan cerdik dalam melakukan sergapan.
Sampai saat ini nama Kolonel KH Noer Ali begitu melegenda di daerah Bekasi. Kami sendiri adalah pengagum beliau dan Alhamdulillah masih sempat bertemu beberapa kali dengan beliau dalam acara-acara Maulid ataupun Haul yang sering diadakan Majelis-majelis di Jakarta pada dekade tahun akhir 80 dan awal 90an. Pada masanya, nama beliau banyak disebut-sebut penjajah Belanda. Seorang pakar sejarah Belanda bahkan pernah terkagum-kagum dengan beliau ini, pakar tersebut bahkan sempat berkata kepada Kyai Noer Ali, “ternyata seorang Kolonel Noer Ali bukan tentara yang gagah perkasa. Penampilan anda begitu bersahaja, bahkan sangat sederhana, malah pakai kain dan jubah, saya takjub dengan jati diri anda”. Kiprah dan kisah perjuangan Sang Kolonel yang Ulama bahkan pernah ingin dibuat oleh Dinas Sejarah TNI AD, namun karena Sang Kolonel tipikalnya rendah hati dan hati-hati, Sang Kolonel memberikan syarat, jika ingin membuat kisahnya, Dinas Sejarah TNI AD harus bersumber langsung darinya, dan Kolonel ingin melihat tulisan Dinas Sejarah tersebut, akur atau tidak dengan kisah sesungguhnya dari Sang Kolonel. Sampai wafatnya akhirnya kisah perjuangan beliau lebih banyak ditulis fihak lain daripada fihak militer, padahal Sang Kolonel sangat dikagumi banyak pejuang sepeti Jenderal Abdul Haris Nasution dan juga tokoh-tokoh besar lainnya.
Mengenai hubungan dengan Masjid Jami Matraman Dalam dan wilayah sekitarnya, tidak bisa dipungkiri bila hal itu memang ada, apalagi bila melihat data diatas. Dalam tulisan selanjutnya juga akan diketahui bahwa ilmu beladiri yang dimiliki Kolonel KH Noer Ali bersama Haji Darip Klender salah satunya berasal dari dari aliran SILAT MATRAMAN yang merupakan warisan dari putra dari Pangeran Diponegoro yang nantinya akan banyak memberikan warna pada perjalanan sejarah Masjid Jami’ Matraman Dalam dan sekitarnya.
Pada masa pendudukan Jepang (tahun 1942-1945) namanya sempat dimasukan ke dalam SHUMUBU yaitu Kantor Urusan Agama Jepang. Pada pertengahan April 1942, KH Noer Ali memenuhi undangan tentara Jepang menghadap pimpinan Shumubu yang berada dekat Masjid Jami’ Matraman Dalam Jatinegara Jakarta Timur (kemungkinan kantor ini sesudahnya menjadi rumah KH Wahid Hasyim). Ternyata dikantor ini KH Noer Ali bertemu dengan Muhammad Abdul Muniam Inada, pelajar Jepang yang menjadi temannya saat berada di Mekkah dan saat itu sudah menjadi ketua Shumubu. Saat itu secara resmi beliau diminta menjadi anggota Shumubu, namun dengan gaya diplomasi beliau bisa menghindarkan diri dari aktifitas Shumubu yang merupakan propaganda politik Jepang.
Keberadaan KH Noer Ali yang secara historis sangat dekat dengan wilayah Matraman dan sekitarnya tentu sangat membanggakan bagi masyarakat setempat. Perlu diketahui pada masa itu Masjid Matraman Dalam dan sekitarnya adalah masuk wilayah Jatinegara Jakarta Timur, sebelum nanti akhirnya dipecah dan menjadi daerah Jakarta Pusat. Pada masa itu Matraman dan sekitarnya adalah daerah pergolakan, tentu KH Noer Ali yang merupakan pejuang, intelektual, ulama, guru besar, sangat mengetahui persis tentang sejarah dari Masjid Jami’ Matraman Dalam dan sekitarnya, apalagi pada masa itu banyak penduduk atau ulama-ulama keturunan Matraman Dalam asli yang masih hidup, tentu interaksi beliau cukup baik.
Dalam perjalanan Majelis Taklim yang pernah kami ikuti di jalan Kimia yang diasuh oleh Al-Ustadz Ishak Usman, pada tahun 1988 – 1989 bahkan Kyai Noer Ali ini pernah diundang dalam acara kegiatan pengajian. Beliau datang dengan jubah hitam dengan ikat sorban dikepala (imamah) yang berwarna kuning dengan memakai tongkat. KH Noer Ali memang sangat karismatik dan berwibawa. Memang ciri khas beliau ini selalu memakai jubah, kadang hijau, kadang hitam, kadang putih. Dalam pengalaman kami bertemu beliau, memang beliau ini dimana-mana selalu ditunggu dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Kami termasuk fihak yang “kenyang” bertemu beliau, sehingga kami hafal ditempat mana beliau biasanya datang dalam kegiatan-kegiatan keagamaan yang diadakan ulama-ulama Jakarta, seperti Maulid Nabi, Haul, Isra Mi’raj, dll.

Setiap pertemuan dengan beliau, selalu saja kami mendengar tentang “keajaiban” kisah beliau dalam berperang melawan penjajah Belanda dan sekutunya. Sehingga itu menambah keinginan kami untuk lebih dekat melihat beliau. Ceramah beliau memang sangat bisa difahami dengan mudah, bahasa beliau cukup ringkas tapi penuh arti. “Singa Karawang Bekasi” ini secara tidak langsung telah memberikan warna keagamaan dalam hidup kami. Kami sendiri setahun yang lalu bahkan pernah berkunjung ke kediaman KH Amir Noer dan cucu beliau di Pondok Pesantren Ujung Harapan Bekasi dalam rangka penelitian nasab yang sesungguhnya KH Noer Ali. Penelitian kami lakukan karena kami ingin mengetahui siapa sebenarnya leluhur dari Pahlawan Besar ini. Bahkan dengan cucu beliau yang merupakan lulusan dari Zabid Hadramaut kami sempat melakukan wawancara cukup panjang, namun Sayangnya penelitian ini tidak kami lanjuti karena kesibukan-kesibukan yang tidak bisa kami tinggal.
Sampai akhir hayatnya, Sang Kolonel lebih banyak berkiprah didunia dakwah dan pendidikan. Beliau sepertinya lebih nyaman menjadi ulama ketimbang menjadi abdi pemerintah ataupun politikus. Nasehat gurunya (Syekh Ali Al-Maliki) saat di Mekkah sepertinya selalu terbayang dan terngiang, bahwa gurunya itu tidak akan pernah Ridho Dunia Akhirat jika mendengar muridnya ini menjadi abdi pemerintah. Sikap hormat dan patuh terhadap gurunya ini memang sudah banyak didengar oleh beberapa sahabatnya, sehingga tidaklah mengherankan jika mereka melihat KH Noer Ali kemudian menjadi ulama plus pendidik tangguh di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Sampai saat ini nama Sang Kolonel yang juga Kyai ini masih harum. Beruntunglah rakyat Bekasi mempunyai ulama yang dulu pernah mampu menghadapi penjajah dengan perlawanan hebatnya.....
KARAWANG BEKASI !!!
Sumber :
Al Fattah, Iwan Mahmud. Masjid Jami Matraman Dalam Dan Sekitarnya, Harta Karun Sejarah Jayakarta, Jakarta : Ikrafa, 2015, hlm 197 – 200



10 NOVEMBER 1945, PERANG “BRUTAL“ TENTARA SEKUTU DAN AREK-AREK SUROBOYO (Mengenang Keberanian Rakyat Surabaya)

Allahu Akbar.......Allahu Akbar........Allahu Akbar............. 
(Takbir Legendaris Bung Tomo dalam perang 10 November 1945)
Sengaja kami mengambil judul yang sedikit “seram” ini karena memang begitulah kenyataannya. Dan ini juga sesuai dengan apa yang telah digambarkan oleh Des Alwi yang merupakan saksi sejarah langsung dalam perang yang sangat mendebarkan tersebut. Perang yang berlangsung sejak tanggal 10 s/d 30 November 1945 memang telah dimenangkan oleh Inggris, namun jangan lupa Inggris hanya berhasil menguasai wilayah geografis Surabaya, namun secara moral mereka tidak pernah mampu meruntuhkan mental perjuangan arek-arek Suroboyo. Sekalipun pejuang surabaya mundur keluar wilayahnya, namun perlawanan masih terus dilakukan dengan cara Gerilya. Jelas dengan adanya perlawanan diluar kota Surabaya itu telah menunjukkan kepada dunia bahwa arek-arek Suroboyo tidak pernah kalah.
Perang 10 November 1945 adalah satu perang terbesar dan terhebat yang pernah dilakukan rakyat Indonesia terhadap penjajah. Kalau dulu rakyat Surabaya masih bersabar terhadap penindasan Belanda dan Jepang, namun untuk kali ini para arek Suroboyo sepertinya sudah tidak mampu lagi menahan kemarahan mereka terhadap kezaliman tirani penjajahan. Dalam perang 10 november 1945 ini, musuh yang mereka hadapi adalah Tentara Sekutu yang baru saja berhasil mengalahkan Jerman dan Jepang diberbagai medan tempur pada perang dunia ke 2, sehingga dengan modal pengalaman tempur yang menurut mereka “hebat” itu, Inggris datang ke Surabaya dengan sangat jumawa dan PD untuk kemudian menundukkan dan menguasai kembali wilayah Surabaya yang terkenal sebagai pelabuhan armada laut terbesar kedua penjajah Jepang di wilayah Asia Tenggara. Kedatangan Tentara Sekutu ini jelas sangat membuat rakyat Surabaya berang karena dibelakang mereka ternyata berdiri fihak Belanda yang ingin kembali berkuasa.
Sebelumnya, kedatangan tentara Sekutu yang dimotori oleh Inggris sudah lebih dahulu tiba di Surabaya, bahkan pada tanggal 27 Oktober 1945 dengan congkaknya, mereka berani mengancam rakyat Surabaya, dengan kesombongan yang luar biasa mereka berani melakukan parade kekuatan untuk menggertak rakyat Surabaya. Dengan kekuatan 20.000 personil mereka begitu percaya diri. Akibat ancaman dan tantangan dari tentara Inggris ini sudah tentu rakyat surabaya tidak terima dan kemudian melakukan perlawanan hebat, sehingga dari tanggal 27 s/d 29 Oktober 1945 terjadilah pertempuran hebat babak pertama yang nyaris dimenangkan oleh para pejuang dan arek-arek Suraboyo, sayang pada saat pasukan Inggris yang sudah berada di ujung kekalahan ini, dengan liciknya mereka kemudian mengajak berunding pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Bung Karno dan Bung Hatta, padahal sebelumnya kedua proklamator tersebut dianggap sebelah mata. 
Dari hasil perundingan itu kemudian disepakati bahwa semua fihak agar menahan diri untuk melakukan gencatan senjata. Tentu keputusan ini sangat “menyakitkan” bagi para pejuang Surabaya dan arek-arek Suroboyo, apalagi saat itu Tentara Inggris sudah hampir kalah di berbagai Front, namun sebagai rakyat mereka kemudian hanya bisa patuh untuk tidak melakukan kontak senjata. Sayangnya dengan adanya perjanjian ini fihak Inggris kemudian mengambil kesempatan untuk memperkuat armadanya untuk kemudian melakukan serangan balik besar-besaran. 
Pertempuran Babak Pertama yang berlangsung pada tanggal 27 s/d 29 Oktober 1945 itu jelas telah memukul mental pasukan Inggris yang terkenal tangguh, mereka tidak menyangka jika ternyata lawan yang mereka hadapi sangat nekat dan terkenal berani bahkan nyaris membuat mereka kalah, padahal saat itu Tentara Inggris telah dilengkapi dengan berbagai persenjataan yang sangat modern. Dalam beberapa catatan harian beberapa perwira Inggris, mereka menyatakan kalau saja perundingan dengan Bung Karno gagal maka Inggris sudah dipastikan kalah, dan ini adalah aib besar dalam sejarah militer mereka yang sejak dahulu selalu memperoleh kemenangan gilang gemilang. Pada perang babak pertama ini bahkan banyak pasukan Inggris yang depresi dan nyaris seperti orang gila karena pasokan logistik yang mereka miliki sudah disabotase dan diblokir pejuang kita. Semua sumber logistik seperti air dan makanan betul-betul sudah diisolasi, sehingga saking begitu kelaparannya tentara Inggris, nasi basipun mereka makan.
Pertempuran babak pertama memang telah selesai, namun secara diam-diam Tentara Inggris rupanya sudah mempersiapkan pasukan kedua yang ditujukan untuk menghancur leburkan kota Surabaya. Keadaan semakin genting ketika terdengar kabar kalau Brigadir Jenderal Malaby tewas pada tanggal 31 Oktober 1945, padahal dalam sejarah perang Inggris mereka tidak pernah kehilangan perwira tingginya. 
Dari sejak tanggal 31 Oktober sampai tanggal 9 November 1945 suasana kota Surabaya begitu mencekam bagi para rakyat jelata, namun tidak bagi para pejuang dan arek-arek Suroboyo yang sudah mulai siap sedia. Inggris terus melakukan ancaman dan provokasi terhadap Rakyat Surabaya. Rakyat Surabaya diultimatum untuk segera menyerah dan memberikan senjatanya kepada fihak sekutu dalam kondisi tangan diatas, sebuah penghinaan yang luar biasa. Sementara itu di kota Jakarta para pemimpin bangsa seperti Bung Karno dan Bung Hatta berusaha melakukan negoisasi agar fihak Inggris tidak melakukan serangan terhadap rakyat Surabaya. Namun sepertinya fihak Inggris tidak memperdulikan pemimpin bangsa kita ini. Dengan congkaknya bahkan Panglima Perang Tentara Sekutu wilayah Jawa Letnan Jenderal Christison bahkan berani mengatakan bahwa Bung Hatta adalah seorang pemimpi dan pengkhayal bahkan menuduhnya dengan menulis bahwa Bung Hatta telah melemparkan tanggung jawab.
Puncak dari provokasi itu adalah ketika tanggal 9 November 1945 Tentara Inggris melalui pesawat tempurnya menebarkan Pamflet dengan ultimatum agar rakyat surabaya menyerah. Namun kemudian ultimatum ini dijawab oleh Gubernur RM Suryo dengan tegas dengan penolakan, bahkan Gubernur RM Suryo dengan suara yang bergetar, tenang dan berwibawa menyerukan agar rakyat Surabaya bersiap-siap untuk menghadapi pertempuran. Gubernur RM Suryo mengatakan demikian karena sudah mendapatkan persetujuan dari pemerintah pusat agar rakyat Surabaya dipersilahkan untuk melakukan perlawanan jika tentara sekutu memang menyerang. Sekalipun kecewa terhadap keputusan pemerintah pusat, namun RM Suryo sebagai Gubernur Jatim tetap berbesar hati. Fihak Jakarta sendiri sepertinya sudah sangat sulit untuk menahan Tentara Sekutu yang begitu bernafsu untuk meluluhlantakkan kota Surabaya. Di sisi lain, kekuatan militer Jakarta belum sekuat seperti Surabaya. Dengan kekuatan personil berjumlah 28.000 disertai perlengkapan tempur yang dahsyat seperti Tank, Pesawat, Kapal Perang, pasukan Inggris sudah bersiap-siap menghabisi rakyat Surabaya. Beberapa pasukan elit mereka seperti pasukan Gurkha bahkan dikerahkan pada misi ini. Tentara Gurkha memang terkenal hebat pada perang dunia kedua, kekejaman mereka sudah terkenal dimana-mana. Namun untuk kali ini Tentara Gurkha yang hampir semuanya berasal dari Nepal dan India mungkin lupa kalau yang mereka hadapi kali ini adalah Arek-arek Suroboyo yang terkenal pemberani dan nekat. Penggunaan Tentara Gurkha ini bahkan sampai diprotes keras oleh Nehru Pemimpin India, namun nasi sudah menjadi bubur, Gurkha rupanya harus berhadapan dengan arek-arek Suroboyo, disisi lain, beberapa tentara Inggris yang berasal dari India yang beragama Islam juga menjadi serba salah ketika mereka melihat betapa kerasnya “jihad fi sabilillah” arek-arek Suroboyo ini, sehingga pada satu kesempatan Bung Tomo meminta agar arek-arek Suroboyo tidak memperlakukan secara kejam tentara India yang Islam bila sudah tertangkap.
Menjelang penyerbuan 10 November 1945 ini, para pejuang Surabaya seperti BKR (Badan Keamanan Rakyat), TKR (tentara Keamanan Rakyat), Polisi Istimewa, BPRI (Badan Pemberontak Rakyat Indonesia), PRI (Pemuda Rakyat Indonesia), Laskar Hizbullah, Gerakan Pemuda Islam Indonesia yang kesemuanya menyatakan akan bertahan total sampai titik darah penghabisan. Para tokoh-tokoh pejuang seperti Gubernur Jawa Timur RM Suryo, Kolonel Sungkono, Dr. Moestofo, Sumarsono, Residen Sudirman, Ruslan Abdul Gani, Des Alwi, M Yasin, dll, telah menyatakan untuk semua bersatu padu melawan Inggris yang diboncengi Belanda. Salah satu tokoh yang cukup menonjol yaitu Bung Tomo melalui Radio Pemberontak bahkan terus menggelorakan perlawanan dan mengajak rakyat Surabaya ikut bertempur sampai titik darah penghabisan. Pidato Bung Tomo yang menggetarkan itu selalu diiringi dengan takbir “Allahu Akbar”. Takbir ini bahkan membuat pejuang dari agama lain ikut terbakar untuk sama-sama menghadapi pasukan Inggris. Bung Tomo yang merupakan sosok yang sangat religius bahkan juga telah mendapatkan suntikan moral dari Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dalam perang 10 November 1945. Mbah Hasyim bahkan telah mengeluarkan “Resolusi Jihad” pada tanggal 22 Oktober 1945 yang akhirnya sangat berpengaruh bagi rakyat Indonesia. Bahkan dengan adanya “Resolusi Jihad” ini telah mampu menghadirkan ribuan ulama dan santri untuk turun langsung dalam perang 10 November 1945. Tercatat pada saat itu nama KH Abbas dari Pesantren Buntet yang ditunggu oleh kalangan ulama Jawa Timur, demikian pula KH Mustofa Kamil dari Garut. Kehadiran para ulama tersebut telah membangkitkan Barisan Sabilillah. Semua santri dan ulama turun langsung dalam perang yang “keras” ini. Bahkan keberadaan ulama-ulama tersebut telah banyak memberikan suntikan pada kekuatan “spritual” arek-arek Suroboyo yang memang sejak dahulu sangat menghormati ulama. Cerita tentang potensi spritual yang dimiliki para ulama ini bahkan banyak sekali yang menyaksikan termasuk Des Alwi sendiri.
10 November 1945 ......
Pagi hari dimulailah perang yang dahsyat. Seperti yang sudah kami tuliskan pada judul diatas. Perang ini adalah perang “brutal” dan sengit, karena fihak inggris telah mengerahkan semua kekuatan darat, laut, udara, sehingga para pejuang di Surabaya dikurung pada semua sektor. Dari pagi serangan sporadis sudah dilakukan, semua persenjataan lengkap dikeluarkan dan pasukan Sekutu mulai memasuki kota Surabaya. Namun demikian semua elemen rakyat Surabaya telah bersatu padu dalam menghadapi penjajah ini. Arek-arek Suroboyo dengan gagah berani bahkan nekat maju menerjang tentara Inggris. Para pemuda yang ikut bertempur yang sebenarnya tidak berpengalaman, namun dengan semangat juang yang tinggi, nekat melakukan aksi pasukan berani mati. Dengan bermodalkan berbagai senjata tajam, mereka betul-betul menunjukkan nyali sebagai arek Suroboyo sejati. Pasukan Gurkha yang terkenal kejam kali ini menghadapi nyali orang-orang yang memang sudah “nekat” untuk mati. Duel satu lawan satu bahkan sering terjadi, sekalipun korban banyak berjatuhan, namun istilah “mati satu tumbuh seribu” sudah sangat terpatri pada diri arek Suroboyo. Des Alwi yang menyaksikan perlawanan gila-gilaan arek-arek Suroboro bahkan telah dibuat geleng-geleng dan setengah tidak percaya melihat kegigihan arek Suroboyo dalam melakukan pertempuran. Des Alwi bahkan sangat kagum dengan kenekatan arek suroboyo yang berani menghadang Tank tempur milik Tentara Inggris, bahkan mereka berani meledakkan dirinya dengan granat, sehingga dengan adanya perlawanan ini banyak membuat Tentara Inggris ngeri. Sekalipun kota Surabaya terus dibom oleh pesawat tempur, hal itu tidak meruntuhkan moral arek-arek Suroboyo.
Begitu nekatnya para Arek Suroboyo ini bahkan telah membuat jalur komando di lapangan sedikit kacau, terutama bagi mereka yang biasa menjadi komandan tempur yang selalu menggunakan strategi perang, seperti BKR dan TKR. Para arek Suroboyo memang sudah tidak memikirkan lagi nyawa mereka, apalagi setelah keluarnya resolusi jihad. Padahal diantara mereka banyak yang tidak bisa menggunakan senjata hasil rampasan tentara Jepang, bahkan dengan modal keris, pedang, bambu runcing itu sudah cukup untuk duel satu lawan satu dengan pasukan Inggris dan Gurkha yang terkenal ahli dalam memainkan senjata. Bagi Des Alwi sekalipun jalur komando dilapangan kacau balau karena kenekatan arek-arek Suroboyo, namun ternyata efeknya telah membuat pasukan inggris berfikir keras dan jeri dalam menundukan Surabaya dengan arek-areknya ini. Para arek Suroboyo yang nekat tersebut memang tidak pernah mau berada di garis belakang, rata-rata mereka mengatakan bahwa berada di garis belakang itu adalah hal yang memalukan bagi arek Suroboyo, bagi mereka kematian tidak masalah yang penting mereka mampu menghabisi tentara Inggris. Setiap arek Suroboyo bahkan selalu bertanya dimana musuh mereka berada, sehingga bila terlihat tanpa fikir panjang mereka langsung menerjangnya. Beberapa tentara Inggris yang tertangkap bahkan tidak ada ampun lagi mereka habisi ditempat.
Prestasi terbesar arek-arek Suroboyo adalah ketika beberapa mereka ada yang berhasil menjatuhkan sebuah pesawat tempur inggris yang didalamnya terdapat Brigadir Jenderal Loder Sydmons, padahal Jenderal yang satu ini terkenal sebagai Jenderal tempur yang paling disegani dan mempunyai banyak prestasi. Total pesawat yang berhasil dijatuhkan menurut Des Alwi adalah 7 pesawat, sebuah prestasi yang mengagumkan mengingat penggunaan senjata anti pesawat belum banyak yang mampu menggunakannya. Memang sebenarnya senjata-senjata peninggalan Jepang itu cukup banyak yang telah dirampas oleh para pejuang dan arek-arek Suroboyo, total 37.000 pucuk senjata yang berhasil dirampas, namun dari banyak senjata itu, ternyata banyak pula yang tidak bisa menggunakannya, sehingga para komandan BKR atau TKR yang biasa bertempur berusaha keras untuk mengajarkan mereka bagaimana menggunakan senjata api.
Dari mulai tanggal 10 sampai tanggal 30 November, surabaya benar-benar menjadi kota perang, arek-arek Suroboyo bertempur tanpa kenal lelah, sementara itu para pejuang dari daerah lain sudah masuk ke wilayah ini untuk ikut membantu pertempuran. Sementara itu Bung Tomo dengan tidak bosan-bosannya terus menggelorakan dan menyemangati arek-arek Suroboyo dengan takbir.....Allahu Akbar.....Allahu Akbar...Allahu Akbar.....semua golongan disuruh bersatu oleh Bung Tomo, apakah dia Madura, China, Bugis, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Sunda atau apakah dia Islam ataupun agama lain, semua disuruh untuk terus berjuang. 
Pertempuran di bulan November yang dimulai sejak tanggal 10 s/d 30 November 1945 ini memang menyisakan tragedi kemanusiaan yang tidak sedikit, tercatat hampir 15.000 rakyat surabaya tewas, dan ini tentu membuat dunia mengecam tentara Sekutu yang katanya datang hanya untuk melucuti tentara Jepang, namun anehnya kalau hanya untuk melucuti, kenapa pasukan yang dibawanya setara dengan pasukan tempur pada perang dunia kedua ?. 
Satu hal yang perlu dicatat, sekalipun tentara Inggris berhasil menguasai Kota Surabaya pada tanggal 30 November 1945, pada hakekatnya mereka itu hanya bisa menguasai kota tersebut dalam keadaan hancur lebur, karena sebelumnya arek-arek Suroboyo telah menjadikan Surobaya menjadi Lautan Api. Arek-arek Suroboyo berprinsip, silahkan saja Surabaya dikuasai, tapi jangan harap tentara Inggris bisa mendapati kota Surabaya dalam keadaan utuh, semua infrastruktur sudah dibakar habis oleh para pejuang dan arek-arek Suroboyo. Fasilitas penting seperti pemancar radio, logistik, obat-obatan, dan senjata-senjata sudah dibawa keluar dari kota Surabaya, sehingga ketika Inggris merasa berhasil menguasai kota surabaya, sesungguhnya mereka hanya mendapati puing-puingnya saja. Sehingga otomatis pergerakan mereka tidak dilanjutkan untuk masuk ke wilayah pinggir Surabaya, apalagi kekuatan mereka semakin berkurang karena adanya perlawanan-perlawanan di daerah lain. Di sisi lain, para pejuang dan arek-arek Suroboyo tidak pernah berhenti untuk melakukan serangan mendadak besar-besaran di beberapa Front yang telah dikuasai Inggris.
Perang dahsyat babak kedua yang terjadi di Surabaya ini memang telah menjadikan inspirasi terhadap beberapa daerah lain untuk melakukan perlawanan secara gagah berani terhadap penjajahan, setiap detik, setiap menit, setiap jam dari mulai tanggal 10 s/d 30 semua rakyat Indonesia terus memantau dan mendengarkan Siaran Radio RRI yang terus berkumandang menyiarkan perang sabil tersebut. 
Perang 10 November 1945 jelas adalah perang “brutal” dalam sejarah perjuangan bangsa kita, sekalipun arek-arek Suroboyo harus menghadapi kekuatan yang maha dahsyat namun berkat keimanan terhadap Allah SWT dan semangat jihad fi sabillah yang telah digelorakan oleh para ulama yang kemudian dilantunkan oleh takbirnya Bung Tomo patut kita jadikan sebagai pelajaran yang berharga, betapa hebatnya sebuah kekuatan namun jika kita yakin kalau Allah selalu bersama kita, maka kekuatan apapun itu tidak akan pernah menang melawan kekuatan Allah SWT....
Allahu Akbar.......Allahu Akbar........Allahu Akbar............
Sumber : 
Alwi, Des. Pertempuran Surabaya 10 November, Jakarta : Buana Ilmu Populer, 2012.
Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah Jilid 2, Bandung : Salamadani, 2014.
Sutomo (Bung Tomo). Menembus Kabut Gelap, Bung Tomo Menggugat, Pemikiran, Surat, dan Artikel Politik (1955 – 1980), Jakarta : Transmedia Pustaka, 2008.